Simak Ini Guys, Stop Mengonsumsi Buku Bajakan

Spontan kami langsung geram setiap kali terdengar ada buku-buku yang dibajak. Dua tahun belakangan ini, pembajakan buku kian meresahkan ekosistem pekerja perbukuan. 

Pembajakan buku adalah sebuah kejahatan, melawan hukum. Sebab mengambil alih hak hasil ciptaan orang lain tanpa sepengetahuan dan izin, lalu menggandakan dan menjualnya secara komersial. Tentu saja kami akan terus mengajak pekerja buku dan ekosistem terkait agar tidak lelah melawan.

Salah satu alasan memilih buku bajakan adalah karena harganya yang murah. Alasan lain, ada pula pembaca yang kesulitan membedakan mana buku asli dan mana yang bajakan. Terutama bagi mereka yang membeli via online. Maka waspadalah jika harga buku yang dijumpai di toko online atau market place itu murah sekali. 

Untuk pembaca buku kami terus melakukan edukasi agar tidak membeli buku-buku bajakan. Dengan mengenali tampilan kualitas fisik buku, juga menandai dari sisi harga yang murah. Buku kw atau buku palsu yang ada di lapak online dan lapak pasar buku offline jelas merugikan kami.

Kamu bisa membayangkan, jika buku yang kamu beli adalah karya penulis idolamu. Apakah kamu tega menghilangkan royalti penulis yang satu eksemplar buku ini 10%. Penulis-penulis sangat jengkel dan marah. 

Selain para penulis, masih banyak rantai profesi dan pekerjaan yang terancam hancur akibat pembajakan buku. Mereka adalah para penerbit, distributor, reseller, dan toko buku.

Mari mengenali prosesnya, memungkinkan kamu menyadari dan mudah-mudahkan menjadi turut muak dengan aksi pembajakan buku yang sulit diberantas ini.

Bagi kamu yang belum pernah melihat proses terciptanya sebuah buku, ini alur ceritanya.

Buku lahir dari proses panjang yang tidak hanya melibatkan seorang penulis. Ada interaksi dengan berbagai bidang pekerjaan dan jasa lain yang merekat, seperti dengan editor, setter, desainer cover, dan ilustrator, dan percetakkan buku. Seperti kamu tahu, para pekerja buku dari editor hingga ilustrator, biasa dikelola di bawah sebuah penerbitan buku. 

Dalam prosesnya, naskah akan ditimbang dan masuk proses editing jika akan diterbitkan. Seorang editor buku untuk melakukan editing, baik dari sisi konten maupun ejaan, pemilihan judul, hingga pembuatan sinopsis atau blurb. Sementara konsep visual buku pun didiskusikan dengan penulis, desainer, dan editor.

Mari geser prosesnya ke ruangan percetakan. Setelah file desain sampul dan layout isi jadi, file ini akan dicetak sesuai dengan jenis kertas dan ukurannya. Di sini pekerja percetakan dari operator mesin, petugas jilid, 

Nah, setelah buku turun cetak, penerbit akan meneruskan buku terbarunya ke distributor buku untuk tersebarkan ke toko buku berlantai maupun toko buku daring. Di sini pembaca dan calon pembeli buku berinteraksi.

Proses lahirnya sebuah buku tidak ada yang instan. Semua membutuhkan waktu. Prosesnya bisa berbulan-bulan bahkan ada yang lebih dari satu tahun. Mengapa demikian? Sebuah naskah yang diterbitkan membutuhkan seleksi panjang dan antrian. Penulis sendiri membutuhkan riset, waktu, dan upaya untuk menulis. 

Setidaknya ada dua alur, seorang buku lahir. Pertama, seorang penulis mengirimkan naskahnya ke penerbit. Kedua, para editor memburu penulis untuk menuliskan dan menerbitkan karyanya, karena alasan konten menarik dan layak jual karena diprediksi akan laku. 


Ini Bedanya Buku Bajakan dengan Buku Asli

Sekali lagi sebuah buku lahir hingga bisa hadir ke tangan pembaca, adalah hasil kolaborasi dari banyak profesi. Buku terbit, melibatkan banyak keringat dan pekerjaan orang-orang. Proses ini melibatkan investasi profes intelektual, waktu, dan kapital.

Kalau kamu kesulitan membedakan perkara ini, karena beralasan yang penting isinya dan lebih memilih buku bajakan karena perkara murah. Ingat guys, ada banyak pihak yang kecewa. Mereka adalah penerbit buku, penulis, distributor, dan toko buku yang menjual buku asli.  

Buku-buku bajakan jelas kualitasnya buruk. Sebagian besar para pembajak buku, menggarapnya dengan asal, dari tampilan seperti cover hasil cetakan kurang tajam. 

Buku bajakan dari sisi kualitas hasil cetakan, kertas bagian isi buku dan cover, serta jilidan sangatlah buruk. Buku bajakan tidak nyaman dan tidak enak disimak. Dari soal harga buku bajakan jauh lebih murah, hingga seperempat harga buku asli. Selain jika, ketahuan kamu membaca buku-buku bajakan selain malu, kamu dapat terkena sanksi hukum.


STOP Beli Buku Bajakan!

Membeli buku bajakan dan asli tentu jelas berbeda perkaranya. Jika kamu sudah tahu beda buku asli dengan buku bajakan, sementara kamu tetap nekad membelinya, maka inilah satu bentuk pelanggaran hukum. Kesadaran ini sungguh mengenaskan karena masih ada bahkan mungkin banyak yang belum sadar bahwa, pembajakan buku adalah sebuah kejahatan. Bahkan membeli buku bajakan pun bisa dikenakan sanksi hukum.

Soal pelanggaran hak cipta sudah jelas hukum pidananya. Bagi yang melakukan pembajakan buku bisa dikenakan denda mulai dari Rp 100 juta hingga 5 milyar dan pidana kurungan dua tahun. Pada kenyataannya delik pembajakan buku dari dulu hingga detik ini terus berjalan. Pembajak buku masih melenggang. 

Ada apa dan siapa di balik industri pembajakan buku? Bagi kami, yang terpenting negara perlu tegas menuntaskan perkara pembajakan buku. Sebab kami tidak hanya dirugikan dari sisi bisnis dan moral. Lebih dalam dan jauh ekosistem industri perbukuan bisa terancam tumbang karena pembajakan.

Mengapa bisa tumbang, masyarakat, baik disadari atau tidak lebih banyak memilih buku murah, buku bajakan. Ekosistem perbukuan yang terdiri dari penulis, penerbit, editor, desainer, dan setter, perlahan bisa hancur dan mati bersaing dengan buku murah versi bajakan. 

Aksi sistemik pembajakan buku tidak saja merugikan ekosistem perbukuan. Tetapi bisa menghancurkan, penulis dan penerbit. 

Pembajakan buku tidak kenal kategori. Biasanya buku-buku “laris” menjadi sasaran utama pembajakan. Dengan cepat setelah rilis, di lapak buku bajakan pun muncul. Sulit diberantas, karena belum terlihat ada langkah tuntas nyata penegak hukum membereskan perkara pembajakan buku.

Sementara itu lemahnya penegakkan hukum terhadap pembajakan buku dan mentalitas masyarakat yang memilih membeli buku bajakan menjadi faktor buku bajakan sulit dihentikan. Dua faktor  ini yang membuat persoalan buku bajakan sulit diselesaikan. Maka tidak heran jika dari dulu sampai sekarang pembajakkan buku terus terjadi.

Sebelum masa penjualan daring buku bajak telah marak di lapak-lapak ilegal. Aksi ini bertambah marak ketika muncul market place. Walau pun mudah ditandai vendor-nya, namun tidak mudah menghilangkan. Sudah dilaporkan mereka akan membuat akun toko baru di marketplace.

Siapa dan bagaimana mana para pembajak buku hadir sebenarnya mudah sekali ditandai dengan jelas. Sejak adanya marketplace, para pembajak pun turut mengedarkan “dagangan buku haram”nya lewat online. Tidak hanya di lapak offline.

Kerugian besar bagi para penerbit yang menjadi korban pembajakan tidaklah sedikit. Hadirnya sebuah buku ada keterlibatan banyak pihak, seperti penulis, editor, layouter, desainer, dan percetakan. Komponen tersebut melibatkan biaya yang tidak sedikit. 

Masyarakat perlu curiga jika tidak bisa membedakan mana buku bajakan dan mana yang asli. 

Kami hanya bisa mengedukasi dan menghimbau masyarakat pecinta buku agar tidak membeli buku bajakan. Sebab membeli buku asli berarti menyelamatkan dunia perbukuan dari kehanduran ekosistem yang sedang dibangun. Dengan adanya kesadaran ini, merupakan harapan bersama di dunia literasi Indonesia.


Unggah Temuan Buku Bajakan dari Lapak Online maupun Offline

Melawan pembajakan buku mesti ramai-ramai. Setidaknya adanya media sosial mudah sekali membuat para penjual buku bajakan malu. 
Unggah ke media sosial, foto atau video di mana aktivitas jual beli buku bajakan ditemukan. Tag dan mention akun para penulis dan penerbit yang menjadi korban pembajakan. Walaupun ini kabar buruk bagi para penulis dan penerbit, kami tetap apresiatif jika kamu berpartisipasi melaporkan temuan buku bajakan.


Menjual dan membeli buku bajakan esensinya sebuah kejahatan dan cepat atau lambat akan menghancurkan kreativitas para pekerja buku (penulis, editor, desainer, layouter, distributor) dan toko buku. Belilah buku orginal, buku bajakan atau kw sungguh tidak keren dan jauh dari berkah, guys. Itu tidak menghargai kerja keras para pekerja buku. Maka Say No to Pirate books! 

Akhirnya, sekali kami kembali pada imbauan kepada para pembaca buku, belilah buku original, jika ingin penulis dan ekosistem buku tetap hidup dan tumbuh. Dan untuk negara, pertanyaan kami, para pekerja buku masih sama, bisakah pemerintahan tegas mengatasi pembajakan buku?

beli buku bajakan ga keren

Post Author: adgroup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.