Mengintip Kebiasaan Literasi Membaca dari Masyarakat Jepang dan Finlandia

kebiasaan membaca

Indonesia ranking kedua terakhir dari 62 negara untuk urusan literasi. Itu kabar dari tahun 2016, yang disampaikan World’s Most Literate Nations Ranked, di link ini. Finlandia dan Norwegia menempati ranking pertama dan kedua. Sementara negeri matahari terbit berada di ranking 32.

Riset lain menurut UNESCO menyebutkan hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang menyukai kegiatan membaca buku. Apakah saat ini keadaan tersebut sudah berubah? Kalau ingin valid tentu membutuhkan penelitian resmi dengan metode ilmiah. Namun, kita bisa melihat di ruang dan angkutan publik atau saat sedang mengantri, sangat sedikit ditemukan orang yang sedang membaca buku-buku fisik.

Biasanya, isu literasi di Indonesia itu seperti bersifat momentum saja. Misalnya, jika ada hari buku, ada hari pendidikan, dan keprihatinan pada serapan buku-buku yang dikonsumsi masyarakat. Selanjutnya seperti tenggelam kembali.

Saat ini, kita sedang terpaku dan banyak terjeda dengan kebiasaan berada di gawai/gadget. Kebiasaan ini kian melekat ke media sosial dan game online. Sejurus itu fakta di media sosial, netizen Indonesia dikenal cerewet sekali dalam menumpahkan komentar penuh uneg-uneg-nya. Selain itu, membaca tread atau postingan, men-scroll video reel menjadi kebiasaan-kebiasaan mereka di media sosial.

Bagaimana menumbuhkan budaya baca buku di Indonesia tentu saja masih menjadi isu klasik, belum terselesaikan sampai saat ini. Ada yang menyoal soal penyebaran buku yang belum merata hingga mahalnya harga buku. Ada juga yang menyalahkan gadget yang sukses merebut perhatian masyarakat.

Banyak contoh dari negara-negara lain, yang mungkin sebagian kebiasaannya bisa diterapkan di negara ini. Semua berawal mengantarkan anak-anak dari kebiasaan yang tampak sederhana: membacakan dongeng pada anak-anak sebelum tidur. Pembiasaan kegiatan literasi di rumah dan lingkungan sekolah.

Sejenak, kita akan mengintip bagaimana dua negara di bawah ini dengan tingkat kemajuan teknologi dan ekonomi tidak serta merta bisa menggeser kebiasaan membaca buku-buku fisik.

BACA JUGA: Literasi Media, Belajarlah dari Estonia

Jepang

Kebiasaan membaca masyarakat Jepang, lahir dalam sejarah panjang. Menurut catatan Amartya Zen, restorasi Meiji menjadi pelatuk kebangkitan Jepang hebat dalam perkara literasi dan perbukuan. Kebijakan kerajaan menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Jepang menjadi salah satu kemajuan pesat.

Selain memiliki sejarah literasi di masa restorasi Meiji, Jepang di masa modern setidaknya ada empat fakta menarik terkait kuatnya budaya ini. Pertama, toko buku dan perpustakaan yang banyak tersebar. Kedua, ada kebiasaan membaca di toko buku. Ketiga, kebiasaan membaca saat mengantri dan di dalam transportasi publik. Empat, peran guru di sekolah literasi membaca 10 menit buku-buku yang disukai sebelum pelajaran dimulai, termasuk gurunya ikut membaca buku.

Untuk kebiasaan nomor dua, pemilik toko tidak merasa khawatir toko bukunya merugi. Dengan membiarkan orang-orang datang dan membaca buku malah membuat toko buku menjadi ramai. Orang-orang yang membaca buku pun membeli buku-buku lainnya. Selain itu, di Jepang, toko buku pun memiliki durasi jam buka yang lebih panjang.

Bagaimana anak-anak Jepang mengenal budaya baca sejak kecil karena mereka dikenalkan dengan kesukaan buku sesuai minatnya. Dalam satu minggu, anak-anak dibiasakan mengambil satu buku yang mereka disukai. Esoknya mereka disuruh bercerita seputar isi buku. Sementara di bangku sekolah dasar, mereka sudah ditentukan buku-buku apa saja yang perlu dibaca.

Pemandangan yang seringkali kita lihat, seperti kebiasaan mengantri dan saat berada dalam transportasi publik, masyarakat Jepang lebih memilih menunduk untuk membaca buku, majalah, dari pada memainkan gawainya. Inilah kebiasaan keren dalam menghabiskan waktu masyarakat Jepang yang kita kenal.

Minat baca yang tinggi dalam keseharian masyarakat Jepang terbentuk karena sejarah, budaya disiplin dan bagian dari sistem pendidikan yang memadai dan maju.

Finlandia

Di negara ini dikenal dengan karakter orang-orangnya yang jujur. Para pelancong tidak perlu khawatir jika dompet terjatuh. Negeri ini pun dikenal sebagai negeri dengan kehidupan masyarakat yang bahagia dengan tingkat pendidikan yang sangat baik.

Selain dikenal dengan negara dengan kualitas pendidikan terbaik, Finlandia juga juara dalam urusan minat baca buku. Menurut catatan situs finland.fi, sekitar 56% waktu luang masyarakat Finlandia dihabiskan untuk membaca buku. Sementara untuk olahraga hoki menempati urutan paling populer dibandingkan dengan esport.

Usia krusial untuk mengenalkan literasi dan membangun kemampuan bahasa diperkenalkan pada anak berusia satu tahun. Caranya, orangtua akan membacakan cerita dongeng dengan suara nyaring. Kabarnya dari hasil riset, kedipan mata bayi adalah respon saat kita sedang bercerita 

Walaupun dikenal dengan tingkat literasi membaca yang baik, ada temuan fakta baru. Pada anak dan remaja tingkat membaca sebenarnya rendah. Hanya mereka yang menikmati membaca akan terus membaca sesuai minatnya. Buku fiksi dihabiskan seminggu sekali oleh remaja berusia 15 tahun. Sama seperti di negara-negara lain, smartphone juga menggeser kebiasaan mereka dalam membaca buku.

Finlandia memang pernah mendapatkan pengakuan tingkat literasi membaca yang tinggi menurut PISA di tahun 2018. Beberapa tahun belakangan ini, mengalami penurunan di tingkatan anak dan remaja.  Motivasi membaca pada remaja laki-laki pun menurun.  

Secara umum tingkat literasi di wilayah Eropa Utara memiliki sejarah dan kebiasaan membaca sangat tinggi, Finlandia yang pertama, dan Norwegia kedua.

Sambil menata dan berkaca pada Finlandia dan Jepang, kita bisa menjadikan hal ini bukan sekadar inspirasi, namun juga sebagai titik tolak untuk kebangkitan literasi Indonesia. Apa yang dilakukan kedua negara tersebut tidak luput dari peran negara dalam menghidupkan sistem pendidikan yang berkualitas dan industri perbukuan yang lebih maju. 

Selain berkaca ke luar, nampaknya adopsi dari tingkat lokal, seperti “jam belajar di lingkungan masyarakat” dan menumbuhkan perpustakaan dengan bahan bacaan yang lebih variatif dan menghibur, barangkali hal ini bisa turut mendorong kebiasaan masyarakat berliterasi lebih baik lagi.

Post Author: adgroup