Kegemaran Membaca Buku Para Tokoh Indonesia

foto: unsplash.com

Mengintip sejarah kehidupan tokoh-tokoh ternama, nampaknya sulit ditemui ada seorang tokoh lepas dari kebiasaan membaca buku. Kebanyakan mereka itu menghabiskan waktunya dengan buku-buku sejak masa mudanya. Kebiasaan membaca buku pun tidak bisa mereka lepaskan ketika mereka bertambah usia, hingga menjelang masa tua. 

Apa yang menggerakkan mereka dekat dengan buku-buku, salah satunya keingintahuan dan terkait cita-cita dan impian besarnya. Tanpa membaca banyak buku, berdiskusi, berdebat di lingkungan indekost Hos Tjokroaminoto, Bung Karno, sulit mengaplikasikan pengetahuan dan ilmunya secara praktis untuk urusan kebangsaan dan impian NKRI.

Nah, dari mana kegemaran membaca para tokoh itu tumbuh? Dari kisah banyak tokoh besar Indonesia, rata-rata kebiasaan membaca buku ditularkan dari lingkungan rumahnya. Bung Hatta, Bung Karno, HB Jassin, Gus Dur, banyak mendapat pengaruh membaca buku dari ayah mereka. HB Jassin, misalnya, di rumahnya terdapat koleksi buku dan perpustakaan milik ayahnya. Sekali suka membaca buku, kebiasaan ini tidak dapat dihentikan, dan akan berlanjut hingga para tokoh ini menua. 

Kamu suka membaca buku? Dalam seminggu berapa buku biasa kamu habiskan? Jika memiliki kendala membangun kebiasaan membaca buku cobalah berangkat dari buku-buku yang kamu minati. Jika kebiasaan ini belum juga kamu temui, tengoklah penggalan cerita tokoh-tokoh di bawah ini, siapa tahu kamu terinspirasi dan turut mengikuti mereka dalam urusan buku.

R.A. Kartini

Jika tokoh-tokoh lain mendapat pengaruh kebiasaan membaca dari ayahnya, R.A. Kartini tokoh emansipasi perempuan ini, mendapat dukungan kebiasaan membaca buku dari kakaknya, Drs. Raden Mas Panji Sosrokartono. Kartono yang pernah berkuliah di Universitas Leiden, Belanda, memberikan banyak dukungan dan pengaruh pada Kartini, mulai dari bahan buku bacaan hingga gerakan perubahan untuk perempuan.  

Menurut catatan dari buku Tokoh Indonesia yang Gemar Membaca Buku, Kartini mendapatkan buku-buku bertema pengetahuan modern seperti revolusi Perancis dan novel-novel populer dari Kartono. Dari sini Kartini mulai mencintai sastra dan bercita-cita ingin menjadi penulis. Kebiasaan membaca buku ini berlanjut hingga Kartini “dipingit”, tidak bisa keluar rumah karena adat tradisi setempat. Pada masa dipingit, buku-buku milik kakak pun dibacanya dan dijadikan teman. 

Tradisi membaca yang dibangun Kartini semenjak kecil ini memberikan pengaruh besar dalam perjuangan mendobrak penindasan kaum perempuan. Dari inspirasi buku-buku yang ia baca, Kartini mengajari kaum perempuan belajar membaca, termasuk keterampilan praktis seperti memasak dan menjahit. 

Mohammad Hatta 

Tengoklah kisah Bung Hatta, ada yang mengibaratkan buku sebagai istri pertama. Kebiasaan ini beliau tekuni semenjak usia 17 tahun. Kebanyakan buku-buku yang dibaca dalam bahasa Inggris itu bertema ekonomi politik, sosial, dan hukum. Selesai kuliah di Belanda, Bung Hatta mengantungi koleksi 8000 judul buku dan berhasil dibawa ke Indonesia. Dalam sehari, usai tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku, 6 hingga 8 jam.

Cerita menarik lainnya, walaupun kita tahu Bung Hatta dari kalangan terpandang, uniknya beliau lebih memilih memberikan mas kawin sebuah buku kepada Rahmi Rachim. Buku yang ditulis Bung Hatta tersebut berjudul Alam Pikiran Yunani. Koleksi buku-bukunya diwariskan kepada masyarakat Indonesia, dalam bentuk perpustakaan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Ir. Soekarno

Bung Karno gemar membaca buku sejak usia muda. Koleksi bukunya, ketika Bung Karno dibuang ke Bengkulu oleh pemerintah Belanda, mencapai 12 peti. Pikirannya tetap merdeka berteman buku bacaan, walaupun Bung Karno berada di rumah tahanan. Hingga akhir hayat beliau banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku. 

Kegemarannya membaca buku berawal saat indekost di rumah HOS Tjokroaminoto, di Surabaya. Bapak Tjokro, kerap memberikan buku-bukunya ke Bung Karno. Inilah warisan ilmu penting dan berharga bagi Bung Karno. 

Apa saja yang dibaca Bung Karno? Beragam kategori buku ia baca. Tidak hanya politik dan ekonomi, namun seni, budaya, dan banyak lagi. Bung Karno memang kutu buku. Sebagian besar koleksinya berbahasa Belanda.

Tidak hanya rajin membaca, Bung Karno pun produktif dalam menulis. Bung Karno banyak membuat artikel. Dua buku hasil tulisan Bung Karno  yang populer seperti Di Bawah Bendera Revolusi dan Sarinah. 

Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Dalam catatan di situs web historia.id, yang mengutip Greg Barton, penulis buku biografi Gus Dur, sejak remaja beliau menyukai tema bacaan dari pemikir lama seperti filsuf seperti Plato dan Aristoteles, serta cendekiawan Muslim abad pertengahan. Istimewanya, Gus Dur dalam satu malam mampu menghabiskan bahan bacaan dalam jumlah besar, hal ini pun ditunjang dari ingatannya yang kuat.  

Kebiasaan membaca ini, berlanjut saat sekolah SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) dan mondok di Pesantren Al Munawwir pada tahun 1954. Di Yogyakarta ini, Gus Dur memiliki kebiasaan berburu tempat membaca buku baik perpustakaan negeri, swasta, maupun pribadi. Dan menurut Barton, Gus Dur banyak menemukan beragam tema buku di kota tersebut. 

Kehidupan Gus Dur diwarnai dengan buku-buku, maka inilah yang membuat wawasannya semakin luas dan memiliki pikiran yang melampaui zamannya. 

B.J. Habibie

Apa yang menggerakkan Habibie bermimpi membuat pesawat? Ternyata dari hasil membaca novel sains fiksi pada masa kecil tentang petualangan naik balon udara. Buku pertama yang berkesan bagi Habibie tersebut, karangan Jules Verne terbit dalam bahasa Belanda. Jika diterjemahkan bahasa Indonesia berjudul Lima Minggu Naik Balon Udara. 

Dari sini Habibie membayangkan Indonesia yang luas dan memiliki banyak pulau, membutuhkan transportasi pesawat udara agar lebih efektif dan cepat dicapai.

Di Jerman, Habibie mengambil sekolah teknik penerbangan dengan spesialiasi konstruksi pesawat. Lalu dikenal sebagai enginer pesawat yang populer dengan Mr. Crack karena menemukan rumus menghitung tingkat “keretakkan” dalam skala atom.

***

Dari para tokoh di atas kita bisa belajar, bagaimana kebiasaan dan kegemaran membaca pun akan memperluas wawasan, mengubah keadaan, baik diri dan bangsanya. Kebiasaan membaca para tokoh tersebut ternyata juga kegemaran lain, seperti menulis. Dari sini kita bisa belajar, tanpa rujukan banyak bacaan buku, kebiasaan menulis dan gagasan-gagasan baru sulit terwujud. 

Memasuki 2021 nanti, kira-kira berapa banyak judul buku yang akan kamu habiskan? Asah keterampilan membaca cepat dan pilih buku bacaan sesuai kebutuhan dan minatmu. Buku adalah bagian dari ilmu dan investasi untuk masa depan.

Stop dan jangan beli buku bajakan ya.

Sumber: historia.id, buku Tokoh Indonesia yang Gemar Baca Buku

Foto: Unsplas.com

Post Author: adgroup