|
Sukses Menjadi Pengusaha Ikan Nila |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Rabu, 10 Pebruari 2010 |
Bapak
Lestarianto pernah menolak uang muka 1.5 miliar untuk memenuhi ekspor
nila ke Korea. Maklum, dia sendiri sudah "keteteran" untuk memenuhi
pasokan 75 ton ikan nila untuk ekspor dan 150 ton ikan nila untuk pasar
lokal. Jika harga rata-rata ikan nila Rp 14.000 per kg, bayangkan
berapa omzetnya per bulan?
Kesuksesan yang diraihnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karier dalam meraup untung dari nila ini dimulai sejak tahun 1990.
Awalnya, Tari merupakan seorang pemilik industri garmen yang juga ikut
membantu mengurusi kolam pancing milik orangtuanya seluas 1.000 m2.
Seiring berjalannya waktu, Tari melihat bahwa bisnis di bidang
perikanan Iebih menarik dan lebih menjanjikan dibandingkan dengan
garmen. Karena itu, Tari mulai serius dan terus mengembangkan kolam
pancing orangtuanya.
Kolam
budi daya yang hanya 1.000 m2 terus berkembang menjadi 8.000 m2. Tidak
hanya itu, Tari pun menciptakan jaringan atau jalur pemasaran ikan nila
hasil panennya. Awalnya, di Kedungombo, kemudian ke Cangklik, Sleman,
Jatiluhur, Cirata, Bandung, bahkan hingga ke Bali.
Berdasarkan
perhitungannya, rata-rata per bulan dapat memasarkan 225 ton ikan nila.
Jumlah ini tidak hanya berasal dari panen kolam darat, tetapi juga dari
132 keramba di Kedungombo yang ikut menyuplainya. Selain 132 keramba
jaring apung, Tari juga memiliki 80 kolam air deras di Janti. Dari
jumlah kolam dan keramba ini, setiap bulan Tari membutuhkan 200-250 ton
pakan. Dengan harga pakan rata-rata Rp 6.500 per kg, Tari memiliki
kewajiban membayar pakan ke pabrik 1.3-1.65 miliar per bulan.
"Namun,
namanya usaha, pasti ada untung ada rugi," kata Tari. "Karena pernah
mengalami pergantian pakan, saya pernah rugi 1.129 miliar," ungkapnya
dengan tenang. Anehnya, walaupun pernah mengalami kerugian hingga lebih
dari satu miliar, Tari sampai saat ini tidak pernah melibatkan bank.
"Semua modal sendiri, tidak ada hutang dengan bank," ujarnya. "Kuncinya
adalah konsisten," tegas Tari ketika ditanya kunci suksesnya.
Berdasarkan perhitungan Tari, jika suplainya tersedia, dia akan sanggup
untuk memasarkan ikan nila dari Jawa hingga Bali sebanyak 1.000 ton per
bulan.
Demikian kisah Bapak Lestarianto yang telah menangguk
sukses besar dalam budi daya dan bisnis ikan nila. Anda pun bisa
mengikuti jejaknya, tidak mesti langsung dengan skala besar, Anda bisa
memulainya dari skala kecil dahulu.
Bagaimana dengan persiapan, biaya, dan teknik pemeliharaannya? Nah, AgroMedia Pustaka menerbitkan “Buku Pintar Budi Daya & Bisnis Ikan Nila”
yang akan membantu Anda secara mudah, praktis, dan bijak. Seluruh
informasi yang Anda butuhkan telah dibahas secara rinci di dalamnya.
Buku
yang ditulis oleh Bernard T. Wahyu Wiryanta, Sunaryo, S.P., Astuti,
S.P., dan M.B. Kurniawan ini membahas seputar budi daya dan bisnis ikan
nila, mulai dari prospek bisnis ikan nila, sistem budi dayanya, teknik
pembenihan, sistem pendederan, teknik pembesaran, pengenalan dan
penanganan hama dan penyakit, pemanenan, hingga pemasaran.
Selain
itu, sebagai motivasi dan menambah bukti keyakinan Anda, disertai pula
dengan kisah-kisah sukses petani ikan nila. Dari kisah-kisah ini, Anda
bisa menimba pengalaman dan harapan bahwa usaha yang akan Anda mulai
telah terbukti keberhasilannya. Bahkan, jika Anda merasa kesulitan
membuat simulasi biaya pertama, Anda juga bisa merujuk ke contoh-contoh
simulasi usaha ikan nila yang terdapat di dalam buku ini.
|
|
|