Serunya Islamic Book Fair 2015

Perhelatan Islamic Book Fair (IBF) 2015 yang digelar pada tanggal 27 Februari sampai 8 Maret 2015 lalu menyisakan kesan tersendiri bagi awak Qultum Media. Menurut Firdaus Agung, redaktur pelaksana Qultum Media, pagelaran IBF tahun ini jauh lebih baik dalam segala hal. “Pokoknya tahun ini lebih oke, mulai dari stan, produk yang kita tawarkan, jumlah pengunjung, acara yang seru, dan tentu saja penjualan yang lebih baik. Itu yang penting,” ujarnya.

Stan Qultum Media memang sengaja dikonsep dengan gaya anak muda. “Karena ada fenomena menarik sekarang, anak-anak muda sedang ramai-ramainya membaca buku islami. Ini terlihat dari jumlah pengunjung kemarin,” tambahnya.

Untuk acara IBF tahun depan, Agung belum memikirkan lebih jauh tentang konsep yang akan diusung Qultum Media. Namun diakuinya, dari acara tahun ini ia sudah bisa melihat segmen pasar terutama antusiasme anak-anak muda.

Ketika ditanya apa yang paling berkesan selama IBF 2015 lalu, Agung menyebut soal lokasi stan yang dekat area panggung utama. “Karena posisi stan kita dekat dengan panggung utama dan dekat dengan pintu keluar. Jadi begitu ada acara di panggung, kerumunan sebagian besar ada di area stan kita. Otomatis mereka juga pasti melihat-lihat apa yang ada di area kita. Itu yang menarik,” tegasnya.

Berikut beberapa foto keseruan acara Islamic Book Fair 2015 Qultum Media:

Terus Menjadi

By Hikmat Kurnia

Bercerita tentang pencapaian masa lalu memang mengasyikan. Kita menjadi romantic dan dipenuhi rasa bangga. Namun terkadang, hal ini bisa membuat kita terjebak pada kesombongan. Romantisme dan kebanggaan memang tidak salah. Namun, saat pencapaian masa lalu menjadikan kita sombong, besar kepala, atau merasa paling hebat, saat itulah sejatinya kita sedang menggali lubang kuburan kita sendiri. Maka, terdengar wajar di telinga saya jika seorang sahabat berkata sambil bercanda, “Janganlah kita membuat perayaan berlebihan dalam memperingati hari jadi kantor kita. Beberapa perusahaan mengalami kemunduran bahkan bangkrut setelah perayaan hari jadinya.”

Perkataan sahabat ini bisa jadi ada benarnya karena mengacu kepada fakta historis. Ada kejadian yang menimpa sebuah perusaahan penerbit yang sedang melejit, yang meroket dalam waktu singkat, tetapi tiba-tiba ambruk setelah perayaan mewah dan meriah di sebuah hotel berbintang. Entah karena perayaannya atau sebab lain, yang pasti nama penerbit itu sekarang tidak kedengaran kabarnya.

Sebagai sebuah peristiwa, perayaan pun bisa dimaknai dan dilihat dari sudut pandang berbeda. Memaknai perayaan sebagai bentuk syukur pada Penguasa Kehidupan ini tentu saja baik dari sisi spiritualitas, apalagi bentuk perayaannya menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Nilai kebaikan dan kemanfaatan terutama ditunjukkan pada perusahaan itu sendiri, karyawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Perayaan bisa juga dianggap sebagai titik introspeksi, berkaca diri, mengevaluasi, dan membuat rencana ke depan. Sudut pandang inilah yang ingin ditegaskan oleh kami para pegiat Kelompok AgroMedia dalam memaknai 14 tahun penjalanan kami di dunia penerbitan buku.

Perjalanan 14 tahun itu dimulai di sebuah rumah kecil di daerah Bintaro, tepatnya tanggal 1 April 2001. Dengan bantuan satu orang office boy yang merangkap penerima telepon, dan tugas macam-macam, bendera AgroMedia sebagai penerbit buku mulai dikibarkan. Dan tanggal itu kini dimaknai sebagai hari jadi Kelompok AgroMedia.

Bermula dari satu orang office boy, kini ada seribu lebih karyawan yang bergabung dalam Kelompok AgroMedia. Bermula dari 3 judul buku, kini telah ada ribuan buku yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dalam Kelompok AgroMedia. Bermula dari satu rumah kecil, kini AgroMedia beraktivitas di seluruh Indonesia. Bermula dari sebuah penerbit buku, kini ada puluhan penerbit tergabung dalam kelompok yang bermarkas di Jalan Haji Montong ini. Bermula dari usaha penerbitkan buku, kini kelompok AgroMedia melebarkan sayap bisnisnya sebagai distributor buku, retailer buku, agregator e-book, percetakan, automotif, dan properti.

14 tahun adalah waktu yang pendek bagi sebuah entitas bisnis. Derajat keberhasilannya masih perlu diuji oleh waktu. 14 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengevaluasi diri: Apakah jejak kakinya memberi manfaat atau mudhadat? 14 tahun adalah jejak langkah yang memadai untuk membuat rencana, sebab lingkungan usaha pastilah mengalami perubahan yang cukup dahsyat. 14 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengisi kembali energi yang telah terkuras, sebab tantatangan di depan sangatlah keras.

Saat berdiri, AgroMedia hanya bermimpi menjadi penerbit pertanian terdepan. Kini impian itu perlu ditata ulang, sebab sudah sangat usang dan tidak relevan lagi. Walaupun namanya Kelompok AgroMedia dan berkonotasi penerbit buku pertanian, sejatinya entitas penerbit yang tergabung dalam kelompok AgroMedia menerbitkan hampir semua jenis buku. Novel, buku masakan, pendukung pelajaran, buku agama Islam, komputer, dan bidang-bidang lain menjadi bidang garapannya. Nama GagasMedia, Bukune, Kawan Pustaka, WahyuMedia, QultumMedia, dan belasan lagi nama penerbit adalah nama-nama penerbit yang tergabung dalam kelompok AgroMedia.

Saat AgroMedia berdiri 14 tahun lalu dunia penerbitan buku belumlah serumit sekarang ini. Tingkat persaingan masih bisa terprediksi. Kekuatan dan kelemahan pesaing masihlah bisa diukur. Namun, saat internet telah menjadi sarana produksi, pemasaran, dan promosi, tingkat persaingan tidak lagi bersifat horizontal. Persaingan dalam dunia perbukuan tidak lagi antarpenerbit, tetapi sudah sangat melebar. Skala bisnis pun tidak lagi menjadi penentu keberhasilan. Kekuatan penerbit tidak lagi bertumpu pada besaran skala usaha, tetapi pada kecepatan dan ketepatan mengantisipasi perubahan selera konsumen.

14 tahun lalu, dunia perbukuan masih dimaknai sebagai penghasil buku cetak, yaitu buku yang terdiri dari lembaran kertas. Kini pengertian buku pun perlu ditata ulang dengan kemunculan e-book sebagai buku digital yang lebih praktis. 14 tahun lalu, pengertian orang cerdas adalah orang yang mampu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Itulah alasannya orang mencari buku ke toko buku, perpustakaan, atau tempat lainnya. Kini, saat informasi begitu melimpah dan terdistribusikan lewat komputer jinjing, tablet, smartphone, atau gawai lainnya. Pengertian orang cerdas pun menjadi berubah. Orang cerdas dimengerti sebagai orang yang mampu menyeleksi informasi dengan akurat, benar, dan dapat dipercaya. Sebab, terlalu banyak informasi yang hoax, fitnah, dan sekadar sampah digital.

Bisnis boleh saja berubah, sebab hakikat bisnis adalah ketidakpastian. Namun, apa pun yang terjadi dengan dunia perbukuan, baik menyangkut perubahan persaingan, perubahan teknologi, perubahan lingkungan usaha, ataupun perubahan wujud buku, AgroMedia harus terus kokoh berdiri sebagai entitas bisnis. Seperti sebuah pepatah “Bisnis ini bukanlah sekadar menunggu hujan reda dan berlalu, tetapi bagaimana belajar menari di tengah hujan”.

Dengan posisi itulah sejatinya perjalanan 14 tahun AgroMedia dapat dimaknai dan diberi sudut pandang yang memadai. “Terus Menjadi” adalah upaya memberi penyadaran bagai para pegiat AgroMedia untuk terus berkarya dengan lebih semangat, lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih berderajat. Bisa jadi para pegiat AgroMedia bisa belajar banyak dari perjalanan 14 tahun untuk “terus menjadi”. Semoga AgroMedia mampu menjadi sawah dan ladang bagi para pemangku kepentingan: selalu berkarya dengan cara yang baik, selalu menghasilkan yang bermanfaat, dan kiprahnya selalu membawa kebajikan.

14 tahun AgroMedia terus menjadi!

Kejutan kue ulang tahun dari teman-teman Agromedia Samarinda
saat berkunjung ke Samarinda Book Fair 2015.