Mengintip Lingkungan Kerja SKG

Banyak hal yang menyebabkan seseorang begitu betah bekerja di perusahaan dalam waktu yang lama. Salah satunya adalah atmosfer kantor yang nyaman, mulai dari ruang kerja, akses menuju kantor, hingga rasa kekeluargaan di antara para karyawan.

“Enak aja suasananya di sini. Enggak saling ngandelin,” ujar Jamaludin, salah satu operator cetak  yang sudah 2 tahun bekerja di percetakan PT. Sarana Kata Grafika (SKG).  Bapak berusia 53 tahun ini kemudian menunjukkan area kerjanya. Ruangannya cukup besar. Suara mesin-mesin cetak merupakan hal biasa baginya. Nampak puluhan operator lainnya yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dalam dunia percetakan, banyak tahapan yang dilalui sebuah berkas sebelum menjadi media cetak. Dan setiap mesin memiliki fungsi yang berbeda. “Begitu juga operatornya,” tambah kakek 2 cucu yang berdomisili di Cibubur ini.

Tak jauh dari area Jamaludin terdapat ruangan khusus pra cetak. Dari sinilah pesanan dalam bentuk softcopy dari pelanggan. Gilang, salah satu operator yang kami temui menuturkan bahwa selama dirinya bergabung di SKG 1,5 tahun lalu, sangat kecil sekali kendala yang ia temui. “Di sini asik-asik aja. Belum ada masalah serius yang saya temui,” kata anak muda berusia 20 tahun tersebut.

Suasana kondusif SKG tak lepas dari sosok Denny Indra sebagai direktur. Ia selalu berusaha membaur bersama karyawannya. Hal ini terlihat dari jam makan siang. Tak segan ia bercanda dan tertawa bersama sambil menyantap makanan. “Di sini makan siang disediakan gratis untuk karyawan,” ujarnya, “Termasuk ngopi juga.”

Jam kerja di SKG sendiri dibagi ke dalam 2 shift, yakni shift pagi mulai jam 7 sampai jam 3 sore. Dilanjutkan shift kedua jam 3 sampai jam 10 malam. Namun, ada juga beberapa pekerjaan yang dilakukan hanya 1 shift, seperti yang dikerjakan Rismansyah. Pria yang berdomisili di Tambun, Bekasi, ini bertugas sebagai operator laminating sampul buku.  Saat kami temui, dirinya sedang sibuk menyusun sampul-sampul buku yang dimasukan ke dalam mesin laminating otomatis. “Lengah sedikit saja hasilnya bisa berantakan,” ucapnya dengan pandangan tetap fokus ke mesin. Dibantu seorang operator lain yang memotong sampul buku, Rismansyah mengaku betah dengan pekerjaannya. “Di sini kita sama-sama kompak,” tegasnya.

Menurut salah satu pengawas bagian cetak, Tumin, karena sebagian mesin sudah canggih, beberapa kesalahan cetak sangat minim. Hal ini juga menjadi motivasi tersendiri bagi para karyawan untuk bekerja secara maksimal. “Nih, seperti ini. Kadang ada berkas yang terjatuh lalu hasilnya terbalik begitu kita masukan ke dalam mesin,” kata Nurusman, seorang operator yang mengerjakan pemotongan pembatas buku.

Dari ruang cetak, kami menyusuri ruang lainnya. Beberapa operator perempuan nampak tekun melipat bagian naskah buku. “Kita sedang melipat isi buku secara manual sekaligus mengecek beberapa kesalahan cetak nomor atau halaman terbalik,” ujar Santi sembari sibuk melipat naskah. Ucapannya diamini Icha yang duduk di sampingnya sambil mengecek setiap halaman-halaman buku yang sudah dicetak.

Jam istirahat hampir tiba bersamaan dengan cuaca yang sedikit mendung. Beberapa operator mulai merapikan diri menuju kantin. Hujan pun turun dengan deras. Kegaduhan terdengar dari ruang kantin karena antrean makan siang yang disajikan. Menu hari itu adalah sayur ayam dengan kuah kaldunya yang menggoda. Mereka yang sedari tadi sibuk dengan kebisingan mesin cetak kini fokus dan terlihat lahap menikmati haknya.

Jaringan Toko Buku Tradisional

Mungkin salah satu hal yang menyebabkan orang disebut sukses adalah ketika hobi menyatu dengan pekerjaan. Setidaknya ini yang dirasakan Arif Hisbulloh yang sudah 11 tahun bekerja di lingkungan Agromedia. “Karyawan ke-50!” ujarnya bangga.

“Saya buta Jakarta. Karena itu saya hanya dikasih modal sebuah peta Jakarta sama Pak Anton,” ujar pria yang akrab disapa Glandonk ini ketika ditanya soal kendala awal bergabung ke Agromedia. Lantas ia membuka obrolan tentang pengalamannya menjelajahi dunia pemasaran untuk buku-buku Agromedia. Glandonk sendiri termasuk orang yang suka jalan-jalan. Maka tak heran saat dirinya ditempatkan di lokasi yang sama sekali belum dikenalnya, ia malah girang bukan kepalang, “Karena saya ingin dan sukanya keliling-keliling. Ya, pas ditempatkan dimana saja, saya suka-suka saja”.

Akhir tahun 2004, ia mulai ditempatkan di Medan, Sumatera Utara, setelah sebelumnya berkeliling Jakarta selama 5 bulan. Diberikan kepercayaan untuk mengembangkan jaringan pemasaran Agromedia, Glandonk menjawabnya dengan sejumlah pencapaian.  Mulai dari pengembangan, perpustakaan, jaringan toko buku, hingga radio.

Menyinggung soal jaringan toko buku, Glandonk membeberkan secara rinci perbedaan cara memasarkan toko buku modern dan tradisional. Jika toko buku modern, biasanya semua data penjualan terkomputerisasi dengan baik. Sedangkan toko buku tradisional kebalikannya, yakni masih terdata secara manual, “Jadi kalau kita belanja minta kwitansi, mereka akan memberinya. Kalau kita enggak minta, ya enggak juga”.

[IMG]/images/arief_glandonk.jpg[/IMG]Lebih jauh Glandonk kemudian menceritakan tentang kondisi toko buku tradisional terutama sistem transaksinya yang agak rumit, “Adanya obrolan tentang penawaran, penagihan, dan sebagainya yang biasanya akan membuat keteteran sales baru”. Inilah salah satu alasan mengapa para sales baru biasanya akan ditempatkan untuk area toko buku besar dan modern seperti Gramedia, “Ini juga yang menjadi ciri khas Agromedia sampai sekarang,” tambahnya. Tantangan lain adalah membina toko-toko buku tradisional sehingga mengarah kepada toko buku yang tumbuh mengikuti perkembangan jaman. Salah satu toko tradisional di daerah Cipulir misalnya, Glandonk dan timnya memberi pengetahuan cara pengelolaan toko buku, mulai dari cara membuat laporan dengan MS Excel, laporan melalui E-mail, transfer setoran, dan sebagainya.

Toko-toko buku tradisional yang kini aktif menjadi klien Kelompok Agromedia sendiri berjumlah sekitar 650 toko yang tersebar di Jakarta, Medan, dan Malang. Dari jumlah tersebut 400 toko berbasis komisi aktif, yakni mereka akan mendapatkan fee sesuai buku-buku yang terjual. Sedangkan sisanya berbasis kredit aktif, yaitu pembayaran melalui sistem jatuh tempo.

Glandonk lalu membeberkan triknya mendekati calon klien, “Biasanya saya jalan-jalan dan lebih memilih penampilan santai untuk mendekati mereka dibanding harus beratribut seragam kantor.  Selain bisa menyegarkan suasana, calon klien juga akan merasa nyaman ngobrol dengan penawaran kita,” ucapnya. “Ya, sambil menyelam minum air lah,” tambahnya.

Karena memang hobinya jalan-jalan, Glandonk memberikan kesannya soal penempatan area kerjanya di daerah, “Tentu senang karena banyak teman baru, pengalaman baru, dan tentu ilmu baru”.  Moto hidupnya adalah work is my hobby, happy is my job.

Di akhir obrolan, Glandonk menceritakan harapan dan mimpinya di Agromedia. Ia berharap ada apresiasi perusahaan kepada karyawan yang berprestasi berupa hadiah umroh, “Kalau biasanya jalan-jalan. Mungkin ini agak berbeda. Ya, sebandel-bandelnya orang, pastilah punya harapan ke arah sana (Mekah –red). Karena ini akan memotivasi kita.” Pria asal Lamongan ini pun mengutarakan mimpi pribadinya ingin memiliki toko buku di kampung istrinya, “Ingin punya toko buku di Belitung”.